50 Hektar Hutan di Karo Terbakar

GOSONG: Lahan di hutan negara yang berada di kaki Gunung Sinabung yang terbakar, Rabu (13/6).
iwan tarigan/SUMUT POs
GOSONG: Lahan di hutan negara yang berada di kaki Gunung Sinabung yang terbakar, Rabu (13/6).
KARO-Suhu di Sumatera Utara (Sumut) yang mencapai 37 derajat celcius saat siang hari akhirnya menimbulkan kebakaran. Adalah kawasan hutan di Karo seluas 50 hektar kemarin terbakar. Beruntung, kebakaran itu tidak melebar dan berhasil dipadamkam.
Kebakaran melanda hutan negara di kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Rabu (13/6). Lahan yang terbakar tersebut yakni didaerah Desa Sukanalu, Simacem dan Bekerah, Kecamatan Naman Teran, Karo. Api diketahui mulai menyala sekitar pukul 09.00 WIB, dan api baru berhasil dijinakan pukul 16.00 WIB.
“Sebagian besar api sudah padam dan dua unit mobil pemadam yang dikerahkan ke lokasi kebakaran dan dibantu oleh warga sekitar juga,” kata Kepala Dinas Kehutanan Karo, Sucipto.
Sucipto yang berada di sekitar Desa Sukanalu, kemarin, menyebutkan perhitungan sementara luas areal yang terbakar itu mencapai 50 hektar. Sebanyak 42 hektar lahan milik warga, dan delapan hektar sisanya hutan lindung. “Kebakaran ini disebabkan aktivitas perladangan yang memakai sistem bakar dan kita masih menyelidiki dari mana sumber apinya,” sebutnya.
Dalam usaha pemadaman, terang Sucipto, pihaknya selain dibantu oleh warga juga dibantu dengan dua mobil pemadam kebakaran pemberian menteri. “Kita juga menurunkan dua mobil yakni mobil pemadam kebakaran yang bernama Manggala Api, yang diberikan oleh menteri. Mobil ini sendiri merupakan mobil gardan dua di mana mobil ini bisa masuk ke lokasi kaki gunung dan mobil ini dilengkapi dengan alat pemadaman,” jelasnya.
Tambahnya, pertama dilakukan pemadaman kebakaran pada sekeliling lokasi agar api tak merambat ke tempat lain. “Selanjutnya mobil Manggala Api gerdang dua itu masuk ke dalam lokasi secara bergantian dan dibantu juga oleh warga karena kebanyakan perladangan warga yang terbakar. Intinya pinggirannya terlebih dahulu agar tak merambat. Warga juga kooperatif dengan membantu memadamkan api,” akunya.

GPS Pemantau Gunung Api pun Hangus

Akibat peristiwa kemarin, selain hutan yang terbakar, satu  dari tiga peralatan pengukur pergerakan gunung api (GPS) yang dipasang di  perbukitan Sinabung pun hangus.
“GPS dipasang tiga titik di perbukitan Sinabung. Dua tidak terkena imbas kebakaran hutan. Kedua alat itu masih dapat mengirim sinyal pergerakan lempeng (denyut nadi Sinabung), ke alat Seismograf di pos pemantau. Walau demikian dari koordinasi dengan pihak Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) alat yang rusak akan segera digantikan,” ungkap Kaban Kesbang Pol dan Linmas Pemkab Karo Drs Suang Karo-Karo, kemarin.
Menurut Suang, pemantauan terhadap aktivitas gunung api yang baru meletus bulan Agustus 2010 lalu itu, masih dapat dilakukan oleh pihak pos pemantau di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpng Empat.
Soal kebakaran, Suang tak menampik kalau proses pemadaman bukan kerja yang gampang. Pasalany, medan kebakaran terjal. Titik api terdekat sekitar 2 km dari jalan aspal. Hembusan angin kencang juga membuat penyebaran api menjadi cepat dari satu titik ke titik lainnya. “Oleh karenanya, Unit Pelaksana Teknis (UPT) kita, Barisan Pencegah dan  Pemadam Kebakaran (BP2K) disertai dua unit damkar Pemkab Karo dibantu warga sekitar tidak dapat berbuat banyak di lapangan. Api menghanguskan kawasan hutan dan perladangan NdokumTunggal Bantul, Desa Sukanalu (20 hektar).  Dan perladangan Pengkih Cingkem, Desa Simacem (30 hektar),” kata Suang.
Informasi yang diperoleh Sumut Pos, api mulai terlihat bekobar sekitar pukul 09.00 WIB dan terus merambat ke kaki perbukitan Sinabung. Api dapat dipadankan sekitar pukul 16.00 WIB. Kebakaran diprediksi dari tindakan warga yang melakukan pembersihan/pembakaran  rumput di areal perladangannya. Hembusan angin yang  kencang membawa percikan api ke areal lainnya.

Terpanas Sejak 1977

Sementara itu, Kepala Data & Informasi BMKG Wilayah I Medan, Hendra S menuturkan, pihaknya sudah memberitahukan bahwa di saat musim panas seperti saat ini memang berpotensi terjadinya kebakaran. “Ada 4 titik api di antaranya di Tapanuli Selatan, Madina, dan Karo,” katanya.
“Suhu saat ini mencapai 37 derajat celcius dan malam hari suhunya mencapai 30-31 derajat Celcius,” tambahnya.
Hal senada juga diucapkan, Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi BMKG Polonia, Hartanto. Dijelaskannya, suhu yang sangat terik dalam beberapa hari ini adalah yang terpanas sejak 1977. “Suhu panas terik di Medan sudah dimulai sejak pekan lalu. Suhu tertinggi terjadi pada Selasa kemaren yakni 36,9 derejat celcius. Suhu dalam beberapa hari ini merupakan suhu yang tertinggi terjadi di Kota Medan sejak tahun 1977,” akunya.
Tambahnya, sekitar tahun 1981 pernah juga terjadi panas terik, tapi tak mencapai 36,9 derajat. Menurutnya, faktor penyebabnya adalah angin monsun barat daya yang bersifat kering yang menghambat pembentukan awan sehingga cuaca cerah dan sinar matahari langsung ke permukaan bumi. “Kepada warga masyarakat, agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan,” imbaunya. (jon/wan/mag-19)

Sebaran 21 Titik Api Panas di Sumut

Luas Lahan Hutan di Sumut mencapai 3.742.120 Hektar

Kawasan Titik Panas Rendah

  • Langkat
  • Medan
  • Deliserdang
  • Serdangbedagai
  • Tebingtinggi
  • Pematangsiantar
  • Karo
  • Tapanuli Tengah-Sibolga
  • Tapanuli Selatan-Padangsidempuan
  • Mandailing Natal
  • Nias
  • Nias Selatan

 Kawasan Titik Panas Sedang

  • Dairi
  • Pakpak Barat
  • Tapanuli Utara
  • Humbang Hasundutan

Kawasan Titik Panas Tinggi

  • Tanjungbalai
  • Asahan
  • Labuhanbatu-Rantau Prapat
  • Simalungun
  • Toba Samosir
Sumber: BMKG Balai Besar Wilayah I Medan
Share:


Recent Posts

Arsip Blog